:: Rabu, 8 09 2010 ::

Sambutan Ketua Umum Yayasan Bung Karno

Ass. Wr. Wb.

Merdeka!

Teriring ucapan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pada tanggal 6 Juni 2005 ini kita memperingati 104 tahun hari lahir Bung Karno. Sebenarnya Yayasan Bung Karno telah mengambil suatu kebijakan, bahwa peringatan untuk Bung Karno diselenggarakan secara besar-besaran setiap lima tahun sekali, terhitung sejak tahun 2001, yaitu saat peringatan 100 tahun Bung Karno.

Tetapi kalau kita melihat kalender, pada tahun ini ternyata terdapat banyak peristiwa bersejarah. Selain 104 tahun lahirnya Bung Karno, pada tahun 2005 ini juga diperingati 50 tahun Konferensi Asia-Afrika, 60 tahun Pancasila, dan 60 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Patut juga kita catat, pada tahun ini-bertepatan dengan 75 tahun pledooi Bung Karno di depan Landraad, Bandung-juga akan diresmikan Museum Indonesia Menggugat di Bandung. Dan tahun ini juga genap 40 tahun berlangsungnya Peristiwa G30S yang merupakan lembaran hitam sejarah bangsa kita.

Dengan banyaknya peristiwa bersejarah yang semuanya melibatkan Bung Karno, maka kami dari Yayasan Bung Karno akhirnya memutuskan, mencanangkan tahun ini sebagai "Tahun Bung Karno". Dan semuanya kita wujudkan dalam acara "Peringatan 104 Tahun Bung Karno".

Ada sebab lain mengapa kita merasa perlu memperingati Bung Karno secara khusus. Belakangan ini terasa ada upaya-upaya yang sistematis untuk mengeliminir Pancasila, Dasar Falsafah Negara kita. Padahal kita tahu, Pancasila bersama Undang-Undang Dasar 1945 merupakan faktor perekat dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada baiknya kalangan ilmuwan menganalisa, apakah hal itu sebagai ekses dari amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945; atau karena Pancasila memang sudah tidak sesuai dengan jiwa bangsa kita; ataukah memang karena sejumlah pemimpin kita sudah luntur kesetiaannya kepada Pancasila, yang dulu telah mereka ikrarkan bersama.

Suatu kenyataan yang memprihatinkan kita hadapi saat ini, lima tahun setelah kita memasuki era Reformasi, kedudukan Pancasila ternyata tidak lebih baik dari era-era sebelumnya. Bahkan Pancasila kini jarang disebut-sebut. Memang kini tidak ada alasan untuk berdebat atau berpolemik mengenai Pancasila, setelah Muhammad Yamin terbukti bukan pencipta Pancasila. Tapi yang menyedihkan, jarang disebut-sebutnya Pancasila itu lebih disebabkan karena banyak di antara kita, terutama para pemimpin, sudah tidak peduli lagi pada Pancasila.

Keprihatinan terhadap kenyataan itu telah melanda berbagai lapisan rakyat. Bahkan sebagian besar pemimpin nasional yang memiliki komitmen pada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, juga terusik menghadapi kenyataan ini.

Keprihatinan itu membuat Yayasan Bung Karno menjelang tanggal 1 Juni 2005 mengeluarkan seruan kepada berbagai kalangan masyarakat, agar memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai ungkapan kepedulian terhadap Pancasila Dasar Falsafah Negara.. Syukur alhamdulillah, respons terhadap seruan itu cukup bagus. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini cukup meluas di kalangan rakyat, bahkan juga dilakukan oleh sejumlah pemimpin nasional kita.

Dengan kenyataan tersebut, Yayasan Bung Karno merasa yakin bahwa rakyat masih setia kepada Pancasila, juga masih setia kepada Penggali Pancasila, Bung Karno. Inilah modal kita untuk menghadapi masa depan, untuk menghadapi upaya penyingkiran Pancasila, dan lebih dari itu untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu pada kesempatan ini-pada hari lahir Bung Karno yang ke-104-kami bermaksud mencanangkan "Tahun 2005 Sebagai Tahun Bung Karno", dengan tujuan menyosialisaikan Pancasila serta ajaran-ajaran Bung Karno yang lain. Visualisasi program Yayasan Bung Karno ini dapat Bapak-bapak dan Ibu-ibu saksikan setelah sambutan saya ini. Tiga acara yang kami selenggarakan itu-baik di Jakarta, Klaten dan Berastagi-sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum Panitia Pelaksana tadi, sebagian besar merupakan peran-serta dan swadaya masyarakat setempat. Pada kesempatan ini kami atas nama Yayasan Bung Karno dan pribadi, menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas dukungan terhadap Yayasan Bung Karno tersebut. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Badan Pengelola Gelora Bung Karno, Kepala Perpustakaan Nasional serta Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional yang telah berperan-serta dalam Peringatan 104 Tahun Bung Karno.

Demikianlah, dengan mengucap Bismillah, dengan ini secara resmi kami canangkan "Tahun 2005 Sebagai Tahun Bung Karno".

Terima kasih.

                                                            Jakarta, 6 Juni 2005

                                                            Guruh Sukarno Putra

                                                            Ketua Umum

..kembali


Homepage
Yayasan Bung Karno
Artikel
Biografi
Galeri Seni
Pustaka
Kirim Email
Buku Tamu
Forum Diskusi

Meluruskan Sejarah

Bung Karno,
The Trendsetter


Hari Lahir Pancasila,
1 Juni 1945


Bung Karno dan Marxisme

Tulisan Dr. Asvi Warman Adam

Levana dan Koleksi Bung Karno

Di Bawah Bendera
Revolusi, Jilid 1


Buku Cergam Seri Bung Karno

Bung Karno Sang Arsitek



Apa pendapat Anda mengenai situs Yayasan Bung Karno ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
Buruk



.: lihat hasil :.