:: Jum'at, 12 Maret 2010 ::

MENGGELORAKAN KEMBALI PANCASILA

Tahun 2005 ini memiliki banyak peristiwa bersejarah. Selain 104 tahun lahirnya Bung Karno, pada tahun 2005 ini juga diperingati 50 tahun Konferensi Asia-Afrika, 60 tahun Lahirnya Pancasila, dan 60 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, serta 75 tahun pledoi Bung Karno di depan Landraad, Bandung. Tapi tahun ini juga genap 40 tahun berlangsungnya Peristiwa G30S yang merupakan lembaran hitam sejarah bangsa kita.

Yang menarik, dalam peristiwa-peristiwa bersejarah itu peran Bung Karno sangat dominan, bahkan sebagian peristiwa itu merupakan perwujudan gagasan Bung Karno. Misalnya saja Lahirnya Pancasila dan Konferensi Asia-Afrika.

Karena banyaknya peristiwa bersejarah di mana Bung Karno mengambil peran-serta, adalah tepat kalau Yayasan Bung Karno memutuskan, pencanangan tahun ini sebagai "Tahun Bung Karno".

Ketua Umum Yayasan Bung Karno, Guruh Sukarno Putra, dalam pidatonya pada memperingati hari lahir Bung Karno tanggal 6 Juni 2005 di Gedung Pola, menyebutkan adanya sebab lain mengapa kita perlu menyelenggarakan peringatan 104 tahun Bung Karno. Yayasan Bung Karno beberapa tahun yang lalu sebenarnya telah mengambil suatu kebijakan, bahwa peringatan untuk Bung Karno diselenggarakan secara khusus setiap lima tahun sekali, terhitung sejak tahun 2001, yaitu saat peringatan 100 tahun Bung Karno. Berarti seharusnya baru tahun 2006 peringatan yang semarak itu akan diselenggarakan. Lalu apa yang membuat Yayasan Bung Karno merasa perlu memperingati Bung Karno pada tahun ini?

Menurut Guruh Sukarno Putra, belakangan ini terasa ada upaya-upaya yang sistematis untuk mengeliminir Pancasila, Dasar Falsafah Negara kita. Padahal kita tahu, Pancasila bersama Undang-Undang Dasar 1945 merupakan faktor perekat dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bila Pancasila berhasil digoyang, tak pelak lagi pada gilirannya Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi goyah, bahkan bisa jadi akan hancur berkeping-keping.

Apakah upaya penggoyangan Pancasila itu karena Pancasila tidak lagi sesuai dengan jiwa bangsa kita, atau karena sejumlah pemimpin kita sudah luntur kesetiaannya kepada Pancasila, yang dulu telah mereka ikrarkan bersama? Guruh tidak menyebut jawaban atas pertanyaan itu, tapi mempersilakan para ilmuwan untuk menelitinya.

Yang jelas, beberapa tahun yang lalu, Majelis Permusyawaratan Rakyat telah melakukan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945. Amandemen terhadap UUD 1945 memang sah-sah saja, sepanjang hal itu merupakan kesepakatan seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno sendiri dalam "Lahirnya Pancasila" mengatakan, UUD 1945 merupakan UUD darurat, yang nanti setelah peperangan berakhir bisa dilakukan perubahan. Tetapi menurut berbagai kalangan, amandemen UUD 1945 yang beberapa tahun yang lalu dilakukan MPR itu terasa "kebablasan", sehingga menghapuskan jiwa dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945.

Amandemen yang "kebablasan" itu membuat banyak orang tidak peduli lagi pada Pancasila. Atau dalam kata-kata Ketua Umum Yayasan Bung Karno, "lima tahun setelah kita memasuki era Reformasi, kedudukan Pancasila ternyata tidak lebih baik dari era-era sebelumnya. Bahkan Pancasila kini jarang disebut-sebut." Dalam analisa Guruh, memang kini tidak ada alasan untuk berdebat atau berpolemik mengenai Pancasila, setelah Muhammad Yamin terbukti bukan pencipta Pancasila. Tapi yang menyedihkan, kalau sekarang Pancasila itu jarang disebut-sebut itu lebih disebabkan karena para pemimpin, sudah tidak peduli lagi pada Pancasila. Hal itulah yang membuat Yayasan Bung Karno mengambil langkah-langkah politik yang strategis. Misalnya, menjelang tanggal 1 Juni 2005 dikeluarkan seruan kepada berbagai kalangan masyarakat, agar memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai ungkapan kepedulian terhadap Pancasila Dasar Falsafah Negara.. Respons terhadap seruan itu cukup bagus. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini cukup meluas di kalangan rakyat, bahkan juga dilakukan oleh sejumlah pemimpin nasional kita, seperti yang berlangsung di rumah mantan Wakil Presiden Try Soetrisno.

Dari kenyataan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa rakyat masih setia kepada Pancasila, juga masih setia kepada Penggali Pancasila, Bung Karno. "Inilah modal kita untuk menghadapi masa depan, untuk menghadapi upaya penyingkiran Pancasila, dan lebih dari itu untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Guruh.

Kita sepakat dengan ucapan Ketua Umum Yayasan Bung Karno itu.


..kembali

Homepage
Yayasan Bung Karno
Artikel
Biografi
Galeri Seni
Pustaka
Kirim Email
Buku Tamu
Forum Diskusi

Meluruskan Sejarah

Bung Karno,
The Trendsetter


Hari Lahir Pancasila,
1 Juni 1945


Bung Karno dan Marxisme

Tulisan Dr. Asvi Warman Adam

Levana dan Koleksi Bung Karno

Di Bawah Bendera
Revolusi, Jilid 1


Buku Cergam Seri Bung Karno

Bung Karno Sang Arsitek



Apa pendapat Anda mengenai situs Yayasan Bung Karno ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
Buruk



.: lihat hasil :.