| :: Jum'at, 12 Maret 2010 ::
|
|
|
|
Letjen TNI. (Purn) H Marshudi dan Hj. Ema Windarti SH (Pulangnya sahabat-sahabat kami)
|
Di penghujung bulan Juni, tepatnya tanggal 22 Juni lalu merupakan hari duka buat kami. Guru, sahabat dan sekaligus rekan seperjuangan kami, Letjen TNI (Purn) H. Marshudi (85 tahun) dan Hj. Ema Windarti (41 tahun) dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Berpulangnya mereka adalah duka yang mendalam buat kami. Mereka berdua merupakan insan yang selalu mendapat tempat khusus di hati kami.
---
Saat dalam perjalanan menemui rekan-rekan kami di Fakfak Barat, Sumatra Utara, kabar duka itu datang. Melalui telepon dikabarkan kepada kami bahwa Pak Marshudi telah meninggal dunia, pukul 11.10 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Sontak kami menundukkan kepala dalam-dalam mengheningkan cipta, berdoa agar almarhum dilapangkan jalannya.
Belum usai rasanya kami menundukkan kepala, kembali "telepon duka" datang dari Jakarta. Mbak Ema, begitu biasanya kami menyapa Hj. Ema Windarti, S.H. dikatakan juga telah meninggal, pada pukul 12.45 WIB di RS MMC Kuningan, Jakarta.
Sebelumnya kami memang mengetahui kalau Mbak Ema tengah dalam perawatan rumah sakit, bahkan Mbak Ema sempat dirawat di RS Mount Elizabeth, Singapura. Sama seperti halnya dengan Pak Marshudi, kami pun juga mengetahui kalau beliau tengah jatuh sakit sehingga beliau tidak dapat hadir dalam acara Peringatan 104 Tahun Bung Karno di Jakarta, 6 Juni lalu. Buat kami kepergian dua orang; guru, sahabat, dan rekan seperjuangan kami itu terasa begitu cepat. Justru disaat kami tidak ada di dekat mereka, berada jauh di sebuah kabupaten baru di Sumatra Utara. Dan kami pun kembali menundukkan kepala dalam-dalam mengheningkan cipta, berdoa untuk almarhumah Mbak Ema.
Sepanjang perjalanan, ingatan dan kenangan kebersamaan kami dengan mereka berdua datang silih berganti. Bagi kami, keluarga besar Yayasan Bung Karno (YBK), Pak Marshudi dan Mbak Ema adalah orang yang memiliki komitmen untuk membesarkan YBK, khususnya Bung Karno dengan cara dan gaya mereka masing-masing.
Yang pasti satu "hutang" kami kepada Pak Marshudi. Kepada kami, beliau sempat menawarkan kerjasama membuat acara peringatan 75 tahun pledoi Bung Karno "Indonesia Menggugat", pada bulan Desember nanti di Bandung. Semasa hidupnya, mantan gubernur Jawa Barat ini (1960-1970) memang dikenal perhatian sekali dengan sejarah perjuangan Indonesia, dunia pendidikan dan gerakan pramuka. Tak aneh bila kemudian Pak Marshudi sempat menjadi ketua pemugaran Gedung Indonesia Merdeka (GIM), di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung. Gedung Metrologi tersebut dahulunya merupakan pengadilan Belanda (Landraad), tempat Bung Karno membacakan pledoi Indonesia Menggugat. Guna melengkapi koleksi GIM, Pak Marshudi juga mencetak buku "Indonesia Menggugat", agar masyarakat dapat mengetahui isi tulisan pembelaan Bung Karno pada waktu itu.
Sedangkan Mbak Ema banyak membantu kami, di saat YBK tengah mempersiapkan acara Pameran Peringatan 100 Tahun Bung Karno, tahun 2001 lalu. Pada waktu itu, Mbak Ema membantu menghimpun dana. Di tahun 2001, Mbak Ema melalui YBK mengajak Mas Guruh mengadakan pergelaran di Yogyakarta dan Bali yang sebagian dana disumbangkan bagi keberlangsungan aktivitas YBK.
Selamat jalan Guru dan Sahabat, kami di sini akan tetap mengenangmu. Semoga almarhum dan almarhumah diterima disisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan. Amin. (hq)
|
| ..kembali |
|
|